Dua Minggu yang lalu saya mendapat email dari Prof. John Edwards, Dean Vet School Murdoch University, isi email tersebut adalah mengajak saya untuk ikut diskusi di kantaor belaiu dengan salah satu orang penting di bidang “science” di Western Australia. Orang tersebut adalah Prof. Lyn Beazley, Chief Scientist Western Australia.
Terus terang ketika melihat “jabatannya” saya masih bingung, jabatan apalagi sih nih. Setelah coba browsing di Internet (http://www.sciencewa.net.au/index.php), ternyata itu adalah posisi yang di tunjuk oleh Premier (Kepala pemerintahan State/negara bagian) yang berfungsi untuk mengkoordinasi semua “sceientist”, kegiatan “science”, mempromosikan science, pengembangan penelitian dan teknologi kepada masyarakat, industri, universitas dan media.
Sekali lagi, kagum! betapa sadarnya pemerintah tentang arti penting “science” dan “sceintist”. Kapan di Indonesia bisa seperti ini yah? Memang ada LIPI dan Menteri Riset dan Teknologi, tapi selama ini saya tidak pernah sama sekali merasakan “manfaat keberadaan mereka” baik dalam kehidupan sehari-hari maupun melihat hasilnya dalam pembangunan di Indonesia (atau saya aja yang ga merasakan). Pernahkah anda?
Mudah-mudahan semua institusi diatas bisa lebih mampu menjawab tantangan untuk bisa memajukan Indonesia kearah yang lebih baik.













Sabtu,9 Agustus, 2008 at 3:33 pm
Yang mau pulang ke Indo, selamaaatttt pulanggg yaaaaaaa….
Kun
Senin,22 September, 2008 at 10:40 am
Perut kudu kenyang dulu, baru bisa mikir out of the box kayak gitu.. atau sebaliknya? Hmm.. it’s one of those chicken-or-egg-first situation
Senin,13 Oktober, 2008 at 11:16 pm
Kadang memang science tidak dapat langsung dirasakan semua orang, tetapi itu tergantung dari komitmen para scientist dan lembaga/badan yang mengelola scientist.
Rasanya negara ini ada kumpulan ilmuwannya, saya lupa namanya.
Semoga idealisme dan hal-hal positif yang dokter Pebi peroleh selama belajar dapat terus dipertahankan dan lambat laun diterapkan di Indonesia. Seperti yang saya alami, selama di luar kita gemes, ngiri, greget, tapi begitu “kecemplung” di rutinitas, kita terbawa arus…. semoga dokter Pebi bisa membangkitkan kembali Keswanas kita
semoga